NAWALAPOST.COM, KUTAI KARTANEGARA – Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan ketersediaan pangan daerah masih dalam kondisi aman meskipun menghadapi musim kemarau dan kebakaran yang memicu kabut asap. Berdasarkan proyeksi pemerintah daerah, pasokan 11 bahan pokok penting diperkirakan mencukupi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun.
Kepala Disketapang Kukar, Ananias, mengatakan dampak kemarau terhadap ketersediaan pangan secara keseluruhan relatif kecil. Perhitungan tersebut mengacu pada data sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait yang menunjukkan sebagian komoditas pangan masih tersedia dalam jumlah cukup, bahkan mengalami surplus.
“Kalau berbicara tentang ketersediaan pangan Kukar secara makro, pengaruhnya relatif kecil. Sampai saat ini, kami memproyeksikan 11 bahan pokok penting tetap tersedia dalam jumlah cukup hingga akhir tahun,” ujar Ananias.
Ia menjelaskan, komoditas yang masuk dalam perhitungan tersebut meliputi beras, minyak goreng, daging, ayam, telur, gula, dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya. Untuk memastikan kondisi pasokan tetap terkendali, Disketapang Kukar juga berkoordinasi dengan dinas teknis, termasuk Dinas Pertanian, guna memantau dampak perubahan cuaca terhadap produksi pangan.
“Berdasarkan perhitungan dan data dari dinas-dinas terkait, ketersediaan pangan secara umum masih aman dan sejumlah komoditas mengalami surplus,” jelasnya.
Menurut Ananias, puncak kemarau pada Agustus bertepatan dengan masa panen padi dari periode tanam April–September. Dalam kondisi tertentu, cuaca kering justru membantu petani melaksanakan panen. Kendala muncul pada lahan yang terlambat ditanami akibat keterbatasan pasokan air, sehingga tanaman belum memasuki masa panen ketika kemarau mencapai puncaknya.
“Puncak kemarau terjadi pada Agustus, yang bertepatan dengan masa panen padi. Pada dasarnya, padi yang akan dipanen memang membutuhkan kondisi cuaca kering sehingga kemarau justru dapat membantu proses panen,” tuturnya.
Meski demikian, Disketapang Kukar tetap mencermati laporan gagal panen di sejumlah wilayah. Berdasarkan laporan dinas teknis, luas lahan yang mengalami gagal panen diperkirakan tidak mencapai 10 persen dari keseluruhan luas lahan yang dilaporkan. Kondisi ini menunjukkan dampak kemarau terhadap produksi perlu dilihat berdasarkan wilayah dan kondisi lahan masing-masing.
Ananias menegaskan, kondisi pangan yang aman secara keseluruhan tidak berarti seluruh petani terbebas dari risiko kerugian. Dalam satu wilayah yang mengalami panen raya, masih terdapat kemungkinan beberapa hektare lahan milik petani mengalami gagal panen sehingga membutuhkan perhatian pemerintah.
“Ada wilayah yang mengalami panen raya, tetapi di wilayah yang sama bisa saja terdapat tiga, lima, atau tujuh hektare lahan yang gagal panen,” ungkapnya.
Karena itu, menurutnya, ketahanan pangan tidak cukup dinilai berdasarkan jumlah pasokan di tingkat kabupaten. Pemerintah juga perlu memastikan masyarakat yang kehilangan hasil panen tetap memiliki akses terhadap bahan pangan, terutama ketika kerugian pertanian berdampak pada kemampuan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Secara wilayah atau makro, ketersediaan pangan kita aman. Akan tetapi, masyarakat yang mengalami gagal panen tetap harus mendapatkan intervensi dari pemerintah,” pungkasnya.
Disketapang Kukar pun menegaskan komitmennya untuk menyalurkan bantuan cadangan pangan kepada masyarakat yang mengalami kerawanan pangan akibat gagal panen maupun bencana. Melalui langkah tersebut, pemerintah daerah berupaya menjaga ketersediaan pangan secara menyeluruh sekaligus memastikan warga yang terdampak tetap mendapatkan dukungan sesuai kebutuhannya. (Adv/Diskominfo Kukar/Don)













