NAWALAPOST.COM, KUTAI KARTANEGARA – Penguatan sektor pariwisata di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus diarahkan untuk memberikan manfaat langsung bagi perekonomian masyarakat. Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar berupaya memaksimalkan potensi lima destinasi unggulan melalui peningkatan promosi dan evaluasi pengelolaan, termasuk peluang pengembangan usaha bagi masyarakat di sekitar kawasan wisata.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispar Kukar, Awang Agus Dharmawan, mengatakan lima objek wisata yang menjadi perhatian meliputi Pulau Kumala, Planetarium, Pantai Tanah Merah Samboja, Waduk Panji Sukarame, dan Tugu Equator di Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu.
Menurut Awang, promosi menjadi salah satu faktor penting untuk memperluas jangkauan informasi mengenai destinasi wisata di Kukar. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan usaha masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Promosi yang lebih gencar diharapkan bisa meningkatkan jumlah wisatawan. Dengan begitu, UMKM di sekitar destinasi wisata juga bisa merasakan dampak positifnya, sekaligus membuka peluang kerja baru bagi masyarakat setempat,” kata Awang, Minggu (11/10/2026).
Di sisi pengelolaan, Dispar Kukar turut mencermati peluang untuk meningkatkan pendapatan dari aktivitas wisata. Sejumlah sumber pemasukan yang berpotensi dimaksimalkan mencakup penjualan tiket masuk, retribusi parkir, serta penyewaan fasilitas yang digunakan pengunjung.
Meski demikian, Awang menegaskan bahwa pengembangan potensi pendapatan tersebut harus tetap memperhatikan kondisi sosial masyarakat. Sebab, aktivitas ekonomi di kawasan wisata juga menjadi sumber penghasilan bagi warga yang menjalankan usaha secara mandiri.
“Masih banyak potensi yang bisa kita maksimalkan, mulai dari tiket masuk, retribusi parkir hingga penyewaan fasilitas. Namun, untuk UMKM dan masyarakat yang berusaha di dalam kawasan wisata, aspek sosial juga harus kita pertimbangkan,” ucapnya.
Ia menyebut, penerapan retribusi terhadap sejumlah kegiatan usaha di lokasi wisata masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut. Evaluasi diperlukan untuk menentukan peluang optimalisasi pendapatan tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat yang selama ini mencari nafkah dari kegiatan tersebut.
“Hal ini perlu kita bahas bersama, termasuk apakah retribusi dari penyewaan ban, penjualan layang-layang, tempat bermain pasir anak-anak, dan aktivitas lainnya perlu dioptimalkan,” sebutnya.
Dispar Kukar berharap pengembangan lima destinasi tersebut tidak hanya meningkatkan daya tarik wisata, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang lebih besar di lingkungan sekitarnya. Karena itu, upaya promosi dan pembenahan pengelolaan diharapkan berjalan beriringan dengan pemberdayaan pelaku usaha lokal.
“Kami berharap pengembangan objek wisata ini dapat memberikan dorongan positif bagi pariwisata di Kukar serta membantu perkembangan ekonomi masyarakat,” tutupnya.(Adv/Diskominfokukar/Don)













