NAWALAPOST.COM, KUTAI KARTANEGARA – Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus mengembangkan inovasi lantai jemur portable untuk membantu petani mempercepat proses pengeringan gabah. Pemerintah daerah menargetkan penyediaan 500 unit selama periode pemerintahan Bupati Kukar, dengan 104 unit telah tersedia melalui pengadaan pada 2025–2026.
Kepala Disketapang Kukar, Ananias, menjelaskan lantai jemur portable dikembangkan dengan mengadaptasi konsep *tunnel* pengering garam yang digunakan petani di Gresik dan Sidoarjo. Konsep tersebut kemudian dimodifikasi menjadi teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kebutuhan petani, terutama dalam penanganan hasil panen padi.
“Lantai jemur portable ini merupakan inovasi Dinas Ketahanan Pangan. Kami mengadaptasi konsep *tunnel* pengering garam yang digunakan petani garam di Gresik dan Sidoarjo,” ujar Ananias, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, fasilitas tersebuttidak hanya berpotensi digunakan untuk mengeringkan gabah, tetapi juga dapat dikembangkan untuk berbagai komoditas lain, seperti jagung, kopi, kakao, rumput laut, dan ikan asin. Meski demikian, pemanfaatan utamanya saat ini masih difokuskan untuk mendukung proses pengeringan gabah hasil panen petani di Kukar.
“Seiring perkembangannya, fasilitas ini ternyata tidak hanya bisa digunakan untuk gabah, tetapi juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan jagung, kopi, kakao, rumput laut, dan ikan asin,” jelasnya.
Ananias menyebutkan, dari target 500 unit yang direncanakan selama periode pemerintahan Bupati, sebanyak 104 unit telah tersedia melalui pengadaan pada 2025–2026. Penyalurannya dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan wilayah yang menjadi sentra produksi pertanian, di antaranya Tenggarong, Loa Kulu, Anggana, Sebulu, Muara Kaman, dan Marang Kayu.
“Target kami sebanyak 500 unit selama periode pemerintahan Bupati. Sampai saat ini, sudah ada 104 unit melalui pengadaan pada 2025–2026,” ungkapnya.
Meski distribusi awal difokuskan pada kawasan sentra produksi, Disketapang Kukar tetap membuka peluang pemenuhan kebutuhan bagi petani di wilayah lainnya. Penyaluran akan mempertimbangkan kebutuhan di lapangan serta kemampuan penyediaan fasilitas yang tersedia.
Dari sisi pembiayaan, pengadaan lantai jemur portable dinilai relatif terjangkau dengan biaya di bawah Rp50 juta per unit. Keunggulan lainnya, fasilitas ini tidak memerlukan lahan hibah seperti lantai jemur permanen, sehingga dapat ditempatkan pada lahan kosong yang tersedia di sekitar kawasan pertanian.
“Biayanya relatif terjangkau, yakni di bawah Rp50 juta per unit. Salah satu keunggulannya adalah tidak membutuhkan lahan hibah,” terangnya.
Disketapang Kukar juga mempertimbangkan penyesuaian ukuran lantai jemur agar lebih fleksibel digunakan di berbagai lokasi. Jika sebelumnya menggunakan ukuran sekitar 4 x 25 meter, ke depan ukuran yang lebih kecil, seperti 4 x 15 meter, akan dipertimbangkan agar fasilitas dapat ditempatkan di jalan usaha tani, pematang, maupun lahan kosong di sekitar area pertanian.
Ananias menambahkan, sifatnya yang portable memungkinkan fasilitas tersebut dipindahkan sesuai kebutuhan petani. Apabila ukuran lebih kecil diterapkan, jumlah unit yang dapat disediakan juga berpotensi bertambah, bahkan melampaui target awal 500 unit. Namun, rencana tersebut masih akan dikaji lebih lanjut dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan pengadaan.
Dengan pengembangan fasilitas ini, Disketapang Kukar berharap petani memiliki alternatif sarana pengeringan gabah yang lebih praktis dan fleksibel. Penyediaan lantai jemur portable diharapkan dapat mendukung penanganan hasil panen sekaligus memperkuat sarana pertanian di berbagai sentra produksi di Kutai Kartanegara. (Adv/Diskominfo Kukar/Don)













