NAWALAPOST.COM, KUTAI KARTANEGARA – Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) telah mampu memenuhi kebutuhan beras secara mandiri dengan produksi yang mengalami surplus. Namun, kemandirian pangan daerah masih menghadapi tantangan pada sejumlah komoditas, terutama gula dan bawang putih yang pasokannya masih bergantung pada daerah lain.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar, Ananias, mengatakan tingkat kemandirian pangan tidak bisa disamaratakan untuk seluruh komoditas. Kukar memiliki kemampuan produksi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan beras, telur ayam, dan daging ayam ras. Sebaliknya, beberapa kebutuhan pangan lainnya masih harus dipenuhi melalui pasokan dari luar daerah.
“Kalau berbicara tentang padi dan beras, kita surplus. Begitu juga dengan telur ayam dan daging ayam ras atau ayam pedaging,” ujar Ananias, Kamis (5/11/2026).
Ia menjelaskan, ketergantungan terhadap pasokan luar daerah masih terjadi pada komoditas gula dan sejumlah sayuran, termasuk bawang putih. Kondisi tersebut berkaitan dengan kemampuan produksi lokal serta kesesuaian lahan untuk membudidayakan komoditas tertentu secara berkelanjutan.
“Jadi, kalau kita berbicara tentang kemandirian atau kedaulatan pangan, harus dilihat berdasarkan masing-masing komoditas. Untuk pangan pokok berupa beras, kita sudah mampu memenuhi kebutuhan dan memiliki surplus produksi,” jelasnya.
Terkait belum berkembangnya produksi gula berbahan baku tebu, Ananias menyebut kesesuaian lahan menjadi salah satu pertimbangan utama. Kajian yang melibatkan akademisi dan peneliti diperlukan untuk mengetahui apakah suatu komoditas dapat dibudidayakan secara optimal sekaligus memberikan keuntungan bagi petani.
“Tebu mungkin bisa tumbuh di sini, tetapi ketika dibudidayakan secara komersial, hasilnya belum tentu menguntungkan. Salah satu pertimbangannya adalah rendemen yang bisa terlalu rendah sehingga gula yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapan,” terangnya.
Menurutnya, persoalan serupa juga dihadapi dalam pengembangan bawang putih. Kondisi lahan, cuaca, dan iklim di Kukar dinilai kurang sesuai untuk mendukung budidaya komoditas tersebut secara optimal. Akibatnya, kebutuhan bawang putih masyarakat masih dipenuhi melalui pasokan dari luar daerah.
Ananias menegaskan, tanaman yang bisa tumbuh di suatu wilayah belum tentu layak dikembangkan dalam skala usaha. Pemerintah perlu mempertimbangkan produktivitas, kualitas hasil panen, serta potensi keuntungan agar pengembangan komoditas tidak justru menimbulkan kerugian bagi petani.
“Jadi, bukan berarti tanaman tersebut sama sekali tidak bisa tumbuh. Persoalannya adalah apakah tanaman itu layak dikembangkan dalam skala komersial dan mampu memberikan keuntungan bagi petani,” pungkasnya.
Ke depan, pemetaan potensi dan kesesuaian lahan menjadi salah satu pertimbangan dalam memperkuat kemandirian pangan Kukar. Dengan memahami keunggulan dan keterbatasan produksi setiap komoditas, pengembangan sektor pertanian diharapkan lebih tepat sasaran, sementara pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat tetap terjaga melalui produksi lokal maupun pasokan dari luar daerah. (Adv/Diskominfo Kukar/Don)













