banner 728x90

banner 728x90

Disdikbud Kukar dan Kesultanan Kutai Pastikan Festival Jadi Ajang Menjaga Marwah Peradaban Nusantara

NAWALAPOST.COM, TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura resmi mengumumkan rangkaian Festival Erau Adat Kutai 2025.

Konferensi pers digelar di Kantor Disdikbud Kukar pada Minggu (7/9/2025), dihadiri langsung oleh Kadisdikbud Kukar, H. Thauhid Aprilian Noor, SP., M.Si, Sultan Aji Muhammad Arifin, dan Juru Bicara Kesultanan, Pangeran Notonegoro, serta Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo.

Kegiatan adat terbesar di Kaltim itu akan berlangsung pada 21–29 September 2025 di Tenggarong, dengan mengusung tema “Menjaga Marwah Peradaban Nusantara”.

Logo, Lagu, dan Identitas Budaya

Kadisdikbud Kukar, Thauhid Aprilian Noor, menjelaskan bahwa Erau tahun ini memiliki logo resmi bergambar mahkota sebagai simbol kekuasaan Sultan.

“Logo ini tidak boleh diganti atau dimodifikasi. Kita ingin menjaga pakem dan identitas, sebab Erau adalah keinginan Sultan sebagai simbol kekuasaan adat,” ujar Thauhid.

Selain itu, pihaknya juga merilis lagu *Erau* versi terbaru hasil aransemen ulang dari lagu lawas karya almarhum Muhammad Gabus.

Lagu ini, diharapkan memperkuat identitas Erau sebagai warisan budaya yang terus hidup dan relevan.

Pangeran Notonegoro menegaskan bahwa Festival Erau bukan sekadar hiburan, melainkan ritual sakral yang mengakar dalam sejarah Kutai.

“Erau dimulai dengan pendirian Tiang Ayu pada 21 September di Keraton, dan inilah simbol dimulainya prosesi sakral yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Kesultanan Kutai,” jelasnya.

Prosesi tersebut, akan disusul pembukaan resmi di Stadion Rondong Demang, dengan parade budaya dari berbagai Kecamatan.

Upacara pembukaan dijadwalkan dimulai pukul 10.00 WITA dan akan dihadiri Bupati Kukar serta Gubernur Kaltim.

Selama sembilan hari, masyarakat akan disuguhkan beragam prosesi adat dan hiburan rakyat, di antaranya:

  • Upacara Bepelas setiap malam di Keraton.
  • Beluluh Sultan setiap sore usai Salat Asar.
  • Beseprah, tradisi makan bersama, pada 21 September di Jalan Diponegoro.
  • Bazar UMKM dan Pentas Seni Tradisi di Stadion Rondong Demang, 21–28 September.
  • Lomba Olahraga Tradisional dan Permainan Rakyat di Lapangan Turap Mahakam, 21–27 September.
  • Mengulur Naga (28 September) dan
  • Belimbur sebagai penutup.

Pangeran Notonegoro mengungkapkan, Kesultanan bersama Pemkab Kukar tengah berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata, agar Erau kembali masuk dalam kalender event nasional bahkan internasional.

“Kami sudah mendapat sinyal positif dari Kemenparekraf. Bahkan, Menteri dijadwalkan hadir pada prosesi pendirian Tiang Ayu,” ujarnya.

Lebih jauh, Notonegoro menekankan pentingnya Erau dalam menjaga identitas budaya bangsa.

“Kalau budaya kita hilang, maka hilanglah identitas Kita dari peradaban. Erau adalah marwah yang harus dijaga agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarahnya,” tegasnya.

Konferensi pers ditutup dengan ajakan Kadisdikbud Kukar, agar masyarakat luas ikut berpartisipasi dan menjaga kelestarian tradisi.

“Erau adalah warisan yang tidak ternilai. Mari Kita bersama-sama merawatnya, agar tetap menjadi kebanggaan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dan Indonesia,” pungkas Thauhid. (INR)

banner 728x90