NAWALAPOST.COM, KUTAI KARTANEGARA – Perubahan perilaku keluarga menjadi salah satu tantangan dalam upaya pencegahan stunting di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Selain pemenuhan kebutuhan dasar, kesadaran orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak hingga kebiasaan merokok di lingkungan rumah turut menjadi perhatian pemerintah daerah.
Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kukar, Sri Lindawati, menjelaskan bahwa tingkat pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan penerapan pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak. Karena itu, edukasi kepada keluarga tetap diperlukan dari berbagai latar belakang.
“Tantangannya lebih kepada perubahan perilaku. Keluarga yang memiliki pendidikan menengah ke atas juga tidak serta-merta menjamin pengasuhan anak sudah berjalan dengan baik,” ucap Sri, Kamis (15/10/2026).
Ia menyebutkan, masih ada orang tua yang belum rutin membawa anak berusia di bawah dua tahun untuk memeriksakan pertumbuhan dan perkembangannya. Padahal, pemantauan secara berkala diperlukan agar kondisi anak dapat diketahui dan kebutuhan tumbuh kembangnya mendapat perhatian.
“Masih ada orang tua yang memiliki anak di bawah dua tahun, tetapi belum rutin membawa anaknya untuk pemantauan pertumbuhan dan perkembangan,” sebutnya.
Menurut Sri, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penyampaian informasi dan edukasi secara berkelanjutan. Terutama di wilayah perkotaan, karakteristik masyarakat yang beragam membuat pendekatan pencegahan perlu terus dilakukan agar pesan mengenai pengasuhan dan kesehatan anak dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Hal seperti ini kadang-kadang harus terus diingatkan. Dengan kompleksitas dan beragamnya kondisi masyarakat perkotaan, kita harus selalu menyampaikan informasi dan edukasi,” katanya.
Sementara itu, di wilayah perdesaan, tantangan yang dihadapi lebih berkaitan dengan keterjangkauan pelayanan kesehatan dan ketersediaan air bersih. Akses terhadap lingkungan yang mendukung kesehatan keluarga juga menjadi aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan stunting.
“Kalau di desa, tantangannya mungkin lebih pada pemenuhan jangkauan akses pelayanan kesehatan, air bersih, kemudian akses keluarga terhadap lingkungan yang sehat,” ungkapnya.
Selain persoalan pengasuhan dan akses layanan dasar, Sri turut menyoroti kebiasaan merokok di lingkungan keluarga. Menurutnya, paparan asap rokok perlu menjadi perhatian karena dapat berdampak pada anggota keluarga yang tidak merokok, termasuk anak-anak.
“Permasalahan yang paling besar itu adalah merokok,” tegasnya.
Sri mengatakan, upaya edukasi bukan semata-mata bertujuan melarang seseorang merokok, tetapi juga mendorong kesadaran agar kebiasaan tersebut tidak membahayakan orang lain. Perokok diharapkan menjauh dari anggota keluarga saat merokok sehingga paparan asap terhadap orang di sekitarnya dapat dihindari.
“Sebenarnya kita tidak melarang seseorang untuk merokok. Tinggal bagaimana menempatkan orang yang merokok jauh dari keluarga sehingga tidak menjadikan anggota keluarga maupun warga lainnya sebagai perokok pasif,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap rokok elektrik bebas risiko hanya karena memiliki beragam aroma. Menurutnya, pemahaman mengenai dampak penggunaan rokok elektrik perlu terus disampaikan sebagai bagian dari edukasi kesehatan keluarga.
“Kadang-kadang rokok elektrik dibuat beraroma sehingga terkesan tidak berisiko. Padahal, risikonya juga besar. Itu menjadi salah satu tantangan besar kita,” imbuhnya.(Adv/diskominfokukar/Don)













