NAWALAPOST.COM, SAMARINDA – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tak selalu harus diisi dengan perlombaan dan seremoni. SMK Medika Samarinda memilih cara berbeda.
Semangat merah putih dipadukan dengan nilai keagamaan melalui khataman Al-Qur’an dan kreativitas siswa.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Festival Merah Putih SMK Medika Samarinda yang digelar melalui kolaborasi bersama Samarinda Square dan sejumlah mitra.
Kegiatan dipusatkan di lantai 3 Samarinda Square Mall, Selasa (11/8/2026).
Suasana perayaan kemerdekaan terasa berbeda. Di tengah pusat perbelanjaan, para pelajar tidak hanya mengikuti berbagai perlombaan khas 17 Agustus, tetapi juga mengikuti khataman Al-Qur’an serta lomba kreasi telur bernuansa merah putih.
Kepala SMK Medika Samarinda, Musmuliadi, mengatakan Festival Merah Putih merupakan rangkaian kegiatan dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memberikan ruang kepada siswa agar dapat menikmati suasana belajar yang lebih variatif.
“Ini kegiatan merupakan Festival Merah Putih bekerja sama dengan Ramayana, Jakarta IntiLand, Samarinda Square untuk ulang tahun kemerdekaan RI yang ke-81. Kebetulan di antara kegiatan-kegiatan 17-an ini kita rangkai dengan kegiatan khatam Al-Qur’an untuk anak-anak SMK Medika per enam bulan,” kata Musmuliadi.
Menurutnya, khataman Al-Qur’an telah menjadi kegiatan yang secara berkala dilaksanakan SMK Medika Samarinda. Dalam satu tahun, tercatat sekitar 35 siswa mengikuti kegiatan khataman.
Namun, tahun ini ada sesuatu yang berbeda. Khataman Al-Qur’an sengaja dirangkaikan dengan momentum HUT RI sekaligus lomba kreatif kreasi telur.
Tradisi yang lazim ditemui di kampung, masjid maupun surau tersebut dibawa ke lingkungan pusat perbelanjaan. Musmuliadi menyebut pemilihan Samarinda Square dilakukan agar siswa mendapatkan suasana berbeda sekaligus dapat menikmati ruang publik yang nyaman.
Tak kalah menarik, lomba kreasi telur menjadi salah satu kegiatan yang menyita perhatian. Telur yang dihias para siswa dibuat dengan nuansa merah putih sebagai simbol semangat kemerdekaan.
Telur-telur tersebut berasal dari sumbangan orang tua siswa. Setiap siswa menyumbangkan dua butir telur. Dengan jumlah siswa sekitar 1.500 orang, sedikitnya 3.000 telur terkumpul, ditambah telur dari masing-masing kelas.
Totalnya disebut mencapai sekitar **3.420 telur** yang disiapkan untuk kegiatan tersebut.
“Berarti ada 3.420 telur yang beredar pada sore hari ini dan siap untuk dimangsa anak-anak kita dan semua orang-orang yang berkunjung di mal Samarinda Square ini,” ujar Musmuliadi.
Kreasi telur itu kemudian dilombakan antarkelas. Setiap kelompok siswa mendapat pendampingan dari wali kelas masing-masing.
Secara keseluruhan, terdapat sekitar 42 kelas yang terlibat. Beberapa kelas dengan jumlah siswa yang tidak mencapai satu rombongan belajar penuh digabungkan.
Sejumlah jurusan yang mengikuti kegiatan tersebut di antaranya Keperawatan, Farmasi, Teknik Sepeda Motor (TSM), Desain Komunikasi Visual (DKV), Multimedia dan Analis Kesehatan.
Selain kreasi telur, Festival Merah Putih juga diramaikan berbagai lomba khas 17 Agustus. Mulai joget balon, memasukkan kelereng ke dalam botol hingga tarik tambang.
Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung selama beberapa hari. Sebagai penutup, SMK Medika Samarinda menjadwalkan upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus di area parkir Samarinda Square.
Musmuliadi mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar siswa tidak terus-menerus berada dalam rutinitas pembelajaran di ruang kelas.
Menurut dia, kegiatan yang bervariasi dapat memberikan semangat baru bagi siswa. Bahkan selama tiga hari, aktivitas peringatan HUT RI dipusatkan di Samarinda Square melalui kerja sama dengan pihak terkait.
“Kami ingin bahwa bagaimana anak-anak selalu diberikan semangat dengan kegiatan variasi. Bukan hanya monoton belajar di sekolah, jenuh, tapi dengan kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Bagi SMK Medika, kemerdekaan juga memiliki makna tentang perjuangan.
Jika dahulu para pejuang mempertahankan kemerdekaan dengan pengorbanan dan senjata sederhana, generasi saat ini memiliki tugas untuk mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang positif.
“Semangat juang bahwa jangan lelah mengisi kemerdekaan ini. Kita sadar bahwa perebutan kemerdekaan waktu itu dengan melalui bambu runcing. Sekarang tinggal kita mengisinya dan menikmati saja. Pertahankan tetap menjadi manusia pejuang sampai ke akhir hayat,” tegas Musmuliadi.
Kegiatan tersebut, mendapat apresiasi dari KH Ahsanur Ahmad, Lc., MA, dari Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Timur.
Ia menilai khataman Al-Qur’an yang digelar di lingkungan sekolah merupakan kegiatan positif dan memiliki nilai penting bagi pembentukan karakter pelajar.
Menurutnya, kegiatan seperti yang dilakukan SMK Medika Samarinda semestinya dapat menjadi contoh bagi sekolah lainnya.
“Masyaallah luar biasa sekali. Ini mesti ditiru oleh sekolah-sekolah yang ada bukan cuma di Samarinda tapi seluruh Indonesia,” kata KH Ahsanur Ahmad.
Ia menilai Al-Qur’an merupakan pedoman bagi umat Islam. Karena itu, menurutnya, keberadaan kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah perlu terus dihidupkan.
KH Ahsanur Ahmad juga mengajak sekolah-sekolah di Samarinda, Kalimantan Timur hingga seluruh Indonesia untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan pendidikan.
“Saya mewakili Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Timur hari ini mengajak kepada seluruh sekolah-sekolah yang ada di Samarinda, di Kalimantan Timur bahkan seluruh Indonesia ayo kita ramaikan dan hidupkan Al-Qur’an di sekolah-sekolah kita masing-masing,” ajaknya.
Ia pun berharap SMK Medika Samarinda tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi terus berkembang dan memberikan inspirasi bagi lingkungan sekitarnya.
“Medika tetap semangat, tetap berkembang, jadilah inspirasi dan penyemangat bagi Samarinda dan Kalimantan Timur dan Indonesia umumnya, insyaallah,” pungkasnya.
Perpaduan antara semangat merah putih, kreativitas pelajar dan nilai religius tersebut menjadi warna tersendiri dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di SMK Medika Samarinda.
Kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan kegembiraan, tetapi juga dimaknai melalui pendidikan karakter, kebersamaan dan upaya menanamkan nilai-nilai positif kepada generasi muda. (RAP/NZR)














