banner 728x90

banner 728x90

Dinas PU Kukar Dorong Embung Maluhu Jadi Kawasan Ekowisata Partisipatif.

Foto IST

NAWALAPOST.COM, TENGGARONG — Embung Maluhu kini tak lagi sekadar waduk penampung air. Setelah sukses menjadi lokasi festival memancing yang menyedot antusiasme ratusan warga, kawasan ini dilirik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) sebagai ruang publik baru yang menyatukan fungsi ekologis, rekreatif, edukatif, dan ekonomi.

Melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Kukar, pengembangan kawasan mulai diarahkan, untuk menjawab dua hal sekaligus yakni, kebutuhan ruang terbuka hijau, dan pemberdayaan masyarakat.

Kepala Dinas PU Kukar, Wiyono, menilai festival memancing yang digelar sebelumnya, menjadi bukti kuat bahwa embung memiliki daya hidup yang besar, jika dikelola dengan pendekatan partisipatif.

“Respon masyarakat waktu itu, sangat tinggi, dan ini jadi petunjuk bahwa kawasan embung layak dikembangkan, bukan hanya sebagai ruang teknis, tapi ruang hidup,” ujarnya.

Ke depan, penataan embung akan mencakup pembangunan elemen fisik seperti gazebo, jembatan kecil, dan jalur pedestrian.

Namun yang lebih penting, menurut Wiyono, adalah menciptakan ruang-ruang interaksi sosial, seperti tempat anak-anak belajar di alam terbuka, komunitas berkegiatan, dan warga berdagang produk lokal.

“Bayangkan embung jadi tempat belajar sambil bermain, pusat kuliner rakyat, hingga galeri kecil hasil kerajinan warga,” ujarnya.

“Dan, semua bisa terjadi jika pengelolaan melibatkan masyarakat sejak awal,” ungkapnya.

Keterlibatan masyarakat, menjadi kunci utama dalam rancangan pengembangan ini.

Bagi Dinas PU Kukar, kawasan akan bertahan lama hanya jika warga merasa memiliki.

“Kalau mereka punya andil, mereka juga yang akan menjaganya, dan bukan sekadar pengguna, tapi bagian dari penggerak kawasan itu sendiri,” katanya.

Pengembangan Embung Maluhu juga akan disandingkan dengan pendekatan konservasi.

Penanaman pohon Pinus direncanakan, untuk menciptakan nuansa sejuk sekaligus memperkuat daya serap air dan nilai ekologis kawasan.

Wiyono menegaskan, Pemkab Kukar berkomitmen menghadirkan ruang publik yang tidak hanya nyaman, tapi juga tumbuh bersama masyarakat.

Dan semuanya dimulai dari festival mancing sederhana, yang membuka mata bahwa embung bisa lebih dari sekadar infrastruktur.

“Ini bukan hanya soal membangun taman atau jembatan, tapi membangun rasa saling peduli dan terlibat,” katanya.

“Embung Maluhu akan jadi ruang hidup baru, yang berakar di tengah warga,” pungkasnya. (Adv-DPU Kukar/INR)

banner 728x90