NAWALAPOST.COM, KUTAI KARTANEGARA – Penurunan angka stunting di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak membuat pemerintah daerah menghentikan program intervensi kesehatan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar memastikan berbagai upaya pencegahan dan penanganan tetap dilaksanakan untuk menjaga capaian yang telah diraih.
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan sejumlah indikator kesehatan masih menjadi perhatian pemerintah daerah. Selain stunting, pengendalian angka kematian ibu serta angka kematian bayi dan balita juga terus dipantau dan ditangani melalui program yang berjalan di lapangan.
“Program prioritas kita saat ini memang masih perlu kita kejar dan perlu di-maintenance. Jadi misalnya angka kematian ibu, angka kematian bayi dan balita, kemudian penurunan stunting, masih menjadi prioritas,” ujar Ismi, Rabu (07/10/2026).
Ia menjelaskan, penanganan stunting dilakukan melalui berbagai bentuk intervensi yang disesuaikan dengan kondisi kelompok sasaran. Salah satunya melalui pemberian vitamin lokal yang pelaksanaannya telah dilakukan di sejumlah puskesmas di Kukar.
“Kalau stunting, jelas prosedurnya memang ada Vitamin lokal. Itu sudah berjalan di puskesmas-puskesmas,” tuturnya.
Intervensi tersebut tidak diberikan secara seragam kepada seluruh sasaran. Dinkes menyesuaikan penanganan dengan kondisi gizi masing-masing penerima, termasuk ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis serta bayi dan balita yang masuk dalam kategori stunting.
Bagi ibu hamil, salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah ukuran lingkar lengan atas yang berada di bawah standar. Dalam kondisi tersebut, penerima mendapatkan makanan tambahan berbahan pangan lokal dengan komposisi yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan gizi.
“Vitamin-nya berupa makanan lokal. Itu diatur oleh teman-teman tenaga gizi, dari makanan seimbang, mulai dari karbohidrat, protein, dan ada ukuran-ukurannya yang diharapkan,” sebutnya
Selain intervensi langsung kepada kelompok sasaran, Dinkes Kukar juga memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dan kader posyandu melalui pelatihan. Kolaborasi dengan sejumlah yayasan turut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dalam mendeteksi sekaligus menangani persoalan stunting di masyarakat.
Karena hal itu, Ismi menegaskan, keberlanjutan program menjadi bagian penting dalam mempertahankan tren penurunan stunting. Menurutnya, capaian yang sudah membaik tetap harus dijaga melalui intervensi yang dilakukan secara berkelanjutan agar angka stunting maupun persoalan kesehatan lainnya tidak kembali meningkat.(Adv/diskominfokukar/Don)













